Header Ads

Header ADS

Setiap Hari Seberangi Sungai 6,5 Km, Perjuangan Pelajar Nias Selatan Menuju Sekolah



NIAS SELATAN, Faktaterkini.net -

Perjalanan menuju sekolah bagi Asdar (17) dan sejumlah pelajar di Desa Fondrako Raya, Kecamatan Ulususua, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, bukan perkara mudah. Setiap hari, mereka harus menempuh perjalanan sekitar 6,5 kilometer dengan berjalan kaki dan menyeberangi sungai untuk mencapai sekolah. 


Jika jadwal belajar dimulai pukul 08.00 WIB, Asdar dan teman-temannya sudah harus meninggalkan rumah sekitar pukul 06.00 WIB.


Mereka bahkan memilih mengenakan pakaian biasa selama perjalanan dan baru mengganti dengan seragam setelah tiba di sekolah.


Asdar, siswa kelas 12 SMA Swasta Afore, mengatakan aktivitas menyeberangi sungai sudah menjadi rutinitas bagi para pelajar di desanya


"Video yang kuposting di Tiktok itu, baru-baru ini. Dan di sini memang sering sungai banjir gitu. Dan tiap hari memang kami pulang pergi sekolah menyebrangi sungai," cerita Asdar kepada Tribun Medan, Selasa (22/9/2026).


Berangkat pukul 06.00 WIB agar tidak terlambat Menurut Asdar, perjalanan dari rumah menuju sekolah melalui jalur sungai mencapai sekitar 6,5 kilometer. Ia biasanya berangkat pukul 06.00 WIB dan tiba di sekolah sekitar pukul 07.10 WIB.


"Jadi biasanya kami dari rumah itu pakai baju biasa dulu. Baju sekolah kami pakai ketika tiba di sekolah. Jadi perjalanan ke sekolah 1 jam kalau dari jalur sungai," jelas Asdar. Perjalanan tersebut menjadi lebih sulit ketika debit air sungai meningkat. Saat banjir atau arus sedang deras, para siswa harus mencari titik yang lebih aman untuk diseberangi.


"Yah ini jalan kami satu-satunya melintas. Jadi kalau lagi banjir atau arus deras kami bisa empat kali naik turun sungai untuk bisa melewati sungai yang tempatnya aman dilewati," jelasnya. Asdar mengatakan, panjang bagian sungai yang harus dilalui sekitar satu kilometer. Setelah itu, perjalanan masih berlanjut melewati kawasan hutan dan jalan darat hingga akhirnya mencapai sekolah.


"Kalau melintasi sungainya itu sekitar 1 km. 1 km lah. setelah lewat sungai sekitaran 2 km lewat hutan baru lagi melewati jalan sekitaran 3,5-5 km. Berarti itu sudah mau 6,5 km-lah jarak tempuh kami," ucapnya. 


Jika air sungai terlalu tinggi, para siswa tidak mempunyai banyak pilihan selain menunggu hingga kondisi memungkinkan untuk menyeberang. Jalan alternatif ada, tetapi sudah menjadi semak belukar Sebenarnya terdapat jalur alternatif dari desa menuju sekolah yang jaraknya lebih pendek, yakni sekitar 4,5 kilometer.


Namun, menurut Asdar, kondisi jalan tersebut sulit dilalui. Sebagian jalan telah mendapat pengerasan sekitar satu kilometer dari masing-masing ujung, sedangkan bagian tengahnya kini dipenuhi semak belukar. "Memang ada alternatifnya, yang dari desa menuju ke rumah itu sudah dikasih pengerasan sekitaran 1 km dari ujung dan ujungnya.


Hanya saja tengahnya sudah jadi semak belukar. Namun, harus bagaimana lagi, dana desa kan enggak mungkin kan, enggak bisa mencukupi semua. Jadi sekarang sudah jadi semak belukar. 


Jadi, jalan menuju ke sekolah ini terhambat dan susah dilewati," katanya. Asdar mengatakan perbaikan jalur tersebut sempat menjadi pembicaraan pada Februari 2026. Namun, hingga kini, ia belum melihat kelanjutan pengerjaannya.


"Lebih dekat lewat situ (jalan alternatif). Kemarin pada bulan Februari itu sempat viral di situ untuk diperbaiki tapi enggak ada kelanjutannya. Kalau mobil memang belum bisa masuk, kalau motor bisa, dari jalur sungai itulah kalau airnya surut. 


Sekarang, jalan alternatif itu sudah jadi semak belukar," tuturnya. Tetap sekolah demi mengejar cita-cita Meski harus menghadapi perjalanan sulit, Asdar dan teman-temannya tetap berangkat sekolah setiap hari. Menurut dia, keinginan meraih cita-cita menjadi alasan mereka terus menjalani perjalanan tersebut.


"Setiap hari lewat sungai. Karena kami punya cita-cita. Saya cita-citanya pengen jadi abdi negara seperti tentara," katanya. Perjalanan yang dilakukan bersama-sama juga membuat para pelajar terbiasa saling menunggu dan membantu. 


"Memang gitu (tiap hari pulang pergi ke sekolah). Itu kami sekarang tuh lebih sering lewat sungai lagi. Jadi lebih kompak aja, kalau pulang, kami biasanya saling tunggu. Jadi nyebrang bareng-bareng," ucapnya.


Tidak hanya pelajar SMA, menurut Asdar, jalur tersebut juga dilalui siswa SD, SMP, SMK, hingga para guru. "Kami dari situ banyak sekali anak sekolah, anak SMP, SD, SMP, SMA, SMK. Ada juga guru yang lewat sungai," katanya. Hingga kini, menurut Asdar, belum terdapat jembatan gantung yang dapat digunakan warga untuk menyeberangi sungai.


"Ya memang enggak ada (jembatan gantung). Lagian kalau misalnya di sini dibikin jembatan itu, Kak, memang lebih susah lagi atau lebih rumit gitu kan. Karena memang sungai itu batu-batu," tuturnya. 


Sempat tertahan dua jam karena sungai banjir Salah satu pengalaman menyeberangi sungai saat banjir dibagikan Asdar melalui akun Instagram pribadinya pada awal September 2026. Saat itu, Asdar bersama adik dan sepupunya hendak pulang setelah kegiatan sekolah.


Namun, curah hujan tinggi membuat sungai yang menjadi akses menuju rumah mereka meluap. Mereka akhirnya menunggu sekitar dua jam, tetapi air belum juga surut. "Perjuangan kami lah anak sekolah yang tinggal di pedalaman kalau hujan deras tambah banjir jalan yang sering kami lewati pada longsor. Hari ini kami pulang sekolah ke halang banjir yang begitu besar," ujar Asdar dalam video.


Untuk mencegah buku sekolah adiknya basah, Asdar menitipkan tas tersebut di rumah keluarganya yang berada di sekitar sekolah. Adiknya juga telah menyiapkan pakaian ganti agar seragam tidak basah ketika menyeberangi sungai. Saat menunggu air surut, ketiganya sempat kehujanan.


"Kami kedinginan karena terlalu lama menunggu surut di tambah kami diguyur hujan di bawah pohon, ketika hujan berhenti dan di sini Asdar ambil resiko untuk melewati banjir dan membantu anak Pak Uda menyebrang sungai," kata Asdar dalam narasi videonya.


 Dalam video tersebut, Asdar terlihat menggendong adiknya sambil memegang erat tangan sepupunya ketika melintasi sungai. Arus sungai terlihat cukup deras hingga beberapa kali membuat langkah Asdar goyah.


"Mungkin ada yang bertanya kenapa gak satu satu kamu bantu untuk menyebrangi sungai? alasannya akan lebih bagus kalau kita ini bergandengan walaupun resiko tinggi dengan bergandengan makin susah terbawa air," kata Asdar. 


Asdar mengaku lebih khawatir ketika anak-anak yang lebih kecil harus melintasi sungai tersebut. "Asdar gak takut (kalau melintas), tapi kalau anak SD, Asdar takut mereka terbawa arus," ujarnya.


 Berharap jalan alternatif diperbaiki Asdar mengatakan, sejauh ini pemerintah daerah belum mendatangi desanya terkait persoalan akses tersebut. Setelah video mengenai perjalanan siswa itu menjadi perhatian publik, menurut dia, baru Babinsa yang datang.


"Belum ada, Bupati belum datang, Pak Gubernur juga gak berkunjung ke sini," ucapnya. Asdar berharap pemerintah lebih memprioritaskan perbaikan jalan alternatif dibandingkan membangun jembatan. Menurutnya, jalan yang sudah mendapatkan pengerasan tersebut dapat menjadi akses yang lebih aman apabila kembali dibersihkan dan diperbaiki.


"Ya, harapan kami dari dulu inginnya ada perhatian dari pemerintah daerah dan pusat. Kami lebih ingin jalan kami dari Dusun 3 menuju Desa Fondrako Raya itu dibangunkan daripada jembatan. Jalan yang sudah dipengeras itu lebih dibersihkan lagi agar kami tuh tidak dapat rintangan lagi setiap hari kalau mau sekolah. 


Enggak harus melewati sungai gitu," ucapnya. Hingga berita tersebut diterbitkan, Bupati Nias Selatan Sokhiatulo Laia belum memberikan tanggapan terkait kondisi akses yang dilalui para pelajar tersebut.


Sumber: Kompas.com

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.